Metro

Auditor Umumkan Investigasi Gardu PLN Cawang

Audit teknologi pada setiap gardu induk adalah suatu hal yang mendesak.

Rabu, 11 November 2009, 11:38 WIB
Siswanto, Sandy Adam Mahaputra
  (PLN Jawa-Bali)

VIVAnews – Tim auditor yang dibentuk Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengumumkan hasil investigasi penyebab kebakaran Gardu Induk PT Perusahaan Listrik Negara, di Cawang, Jakarta Timur. Kesimpulannya kasus itu diakibatkan oleh kelebihan daya beban yang ditanggung oleh gardu.

“Kesimpulan dari penyebab kebakaran pada gardu Cawang ialah trafo bekerja pada beban yang tinggi,” kata Hamzah Hilal, Peneliti Utama Bidang Kelistrikan BPPT di Jakarta. “Hal ini memerlukan solusi berupa penambahan trafo disetiap gardu, agar beban bisa dikurangi dan trafo bekerja secara ideal.”

Menurut Hilal, pembebanan ideal pada sebuah instrumen trafo berada pada kisaran 60 persen dari kapasitas. Sedangkan sebelum Gardu Induk Cawang terbakar, pembebanan di salah satu travo berada di kisaran 90 persen dari kapasitas.

Hilal menambahkan Gardu Induk Cawang memiliki kapasitas pembebanan sampai sekitar 400 MV. Idealnya, pembebanan di travo ini hanya sekitar 240 MV. Hasil yang didapat oleh tim investigasi, trafo di GITET Cawang bekerja pada kondisi yang tinggi. Rata-rata di setiap harinya, gardu menanggung beban 80 persen dari kapasitas normalnya, secara terus menerus dan lebih dari sembilan jam.

“Beban yang tinggi secara terus menerus ini menyebabkan dielectric losses, thermal instability dan kenaikan temperatur konduktor dan bushing,” katanya.

Dijelaskan, akibat pembebanan yang tinggi, temperatur udara di dalam salah satu elemen trafo pun naik. Hal ini mengakibatkan munculnya titik hotspot.  Pemanasan ini kemudian mengakibatkan salah satu seal pada trafo memuai.

Memuainya seal mengakibatkan kandungan minyak yang ada dalam trafo merembes ke bagian atas trafo. Akibat percampuran panas gas dengan minyak trafo, maka terjadilah ledakan yang mengakibatkan kebakaran pada gardu.

Menurut Hilal, beberapa langkah perlu dilakukan oleh PLN dalam mengatasi terjadinya masalah serupa di masa mendatang.

Lebih lanjut Hilal mengatakan audit teknologi pada setiap gardu induk adalah suatu hal yang mendesak.

Menurutnya dengan mengaudit setiap gardu, maka akan diketahui permasalahan teknis yang dialami oleh gardu-gardu itu. “Perlu diadakan audit serupa di gardu-gardu induk di Jakarta seperti Gandul, Kembangan, Bekasi, dan Depok,” ujar dia.

Seperti diberitakan sebelumnya Gardu Induk PT Perusahaan Listrik Negara di Cawang, Jakarta Timur, terbakar pada 29 September 2009. Dampak domino terjadi setelah itu. Pemadaman listrik secara bergilir di Jakarta terpaksa harus dilakukan oleh PLN.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ