Metro

Listrik Padam, Pertumbuhan Ekonomi DKI Lambat

Salah satu yang kena imbas pemadaman listrik bergilir adalah bisnis hotel.

Senin, 16 November 2009, 07:29 WIB
Siswanto
Petugas PLN tengah memperbaiki jaringan listrik di Gardu Induk Gandul, Jakarta. (PLN Jawa-Bali)

VIVAnews - Pemadaman listrik bergilir yang dilakukan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) diperkirakaan memperlambat pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta. Sebab, pertumbuhan usaha mikro dan makro terhambat akibat produksi tidak bisa maksimal.

Listrik merupakan sumber kebutuhan utama bagi restoran, industri, usaha mikro, kecil, menengah hingga atas. Dengan tidak adanya listrik atau kapasitasnya tidak lagi memenuhi kebutuhan utama mereka, maka hal ini sangat merugikan pengusaha.

"Pemadaman listrik menyebabkan keterlambatan produksi. Biaya produksi pun membengkak namun pengeluaran tetap," kata Agus Suherman, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, seperti dikutip dari situs resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Sebenarnya, kata Agus, pengusaha bisa menyiasatinya dengan menggunakan genset. Namun hanya pengusaha bermodal besar saja yang bisa menyediakannya dalam kapasitas besar. Sementara pengusaha kecil harus berhenti beroperasi karena tidak mampu menyediakan pembangkit cadangan listrik yang memadai.

"Kalaupun bisa menyediakan genset, pasti dengan kapasitas kecil. Lagi-lagi produktivitas usaha menjadi minim," ujarnya.

Jika ini berlangsung terus menerus, Agus berpendapat lama kelamaan pertumbuhan dan pergerakan ekonomi DKI Jakarta akan melambat.

Target pertumbuhan ekonomi dalam APBD DKI 2009 yakni 3,25 persen sampai 4,75 persen.

Agus berharap pemadaman listrik tidak memperlambat pertumbuhan ekonomi sehingga membuat target yang ditetapkan menjadi tidak tercapai.

Agus menjelaskan pertumbuhan ekspor di Jakarta pernah terpuruk pada Desember 2008 hingga Maret 2009. Produk yang dihasilkan tidak bisa dilempar ke luar negeri karena negara pembeli tidak mempunyai finansial yang cukup. Akhirnya produk ekspor itu dijual kembali di dalam negeri.

"Ini akibat krisis keuangan global. Karena itu kami menggantungkan diri pada kemampuan finansial negara sendiri," katanya.

Namun, akibat pemadaman listrik, kemampuan finansial DKI Jakarta pun turut melemah. Dia berharap agar PLN mengatur waktu pemadaman listrik.

Hendaknya, listrik di kawasan industri ataupun sentra industri rumahan tidak mati. Sehingga tidak terlalu berpengaruh pada aktivitas perekonomian yang memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi.

Agus mengungkapkan pertumbuhan ekonomi sebelum ada pemadaman bergilir atau pada triwulan III tahun 2009 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,98 persen.

Sementara secara kumulatif, PDRB DKI Jakarta selama triwulan I-III tahun 2009 mengalami pertumbuhan sebesar 5,11 persen dibandingkan periode sama tahun 2008.

Katanya, pertumbuhan itu terlihat dari sisi lapangan usaha yang didorong semua sektor ekonomi. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor pengangkutan dan komunikasi (5,74 %), sektor perdagangan, hotel, dan restoran (3,72 %), serta sektor konstruksi (3,39 %). Kemudian dari sisi pengeluaran, pertumbuhan disebabkan naiknya impor (4,32 %), pembentukan modal tetap bruto (3,90 %), dan konsumsi pemerintah (3,51 %).

Direktur Eksekutif Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Carla Parengkuan menyatakan pemadaman ini sangat memengaruhi stabilitas bisnis perhotelan di ibu kota. Kerugian atas ketiadaan listrik juga menjadi beban pemilik hotel dalam operasionalnya. Katanya, kerugian yang paling besar diderita dikarenakan gangguan teknis dan rusaknya instalasi elektronik akibat hidup matinya listrik.

Pihaknya belum bisa menghitung jumlah kerugian akibat listrik padam. Begitu juga dampak terhadap tingkat hunian. "Yang jelas kami sangat terbebani dan dirugikan atas pemadaman ini," ujar Carla.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ