SURABAYA POST - Beban keluarga miskin, Shodik (27)-Anis (17), warga Wringinanom, Kec. Tongas, Kab. Probolinggo yang mempunyai bayi tanpa dinding perut (gastro schizis) sedikit terkurangi. Pemkab Probolinggo bersedia menanggung biaya pengobatan bayi bernama Muhammad Basir itu.
Memang bukan perkara gampang bagi warga miskin yang mempunyai bayi cacat, untuk memeroleh akses kesehatan (pengobatan). Kisah pilu itu dilalui Anis, saat hendak melahirkan bayinya.
Dengan alasan bidan Astatik di Desa Wringinanom sedang libur karena hari Minggu, Anis akhirnya melahirkan di rumah dukun bayi, Ny. Djannah di Desa Banjarsari, Kec. Sumberasih.
"Mungkin karena hari Minggu, bidan Astatik tidak buka. Ya akhirnya adik ipar saya dibawa ke dukun bayi," ujar Misri (30), kakak Shodik. Sumber lain menyebutkan, keluarga Anis tidak mempunyai cukup uang untuk bersalin di bidan desa.
Meski diwarnai hujan tangis begitu mengetahui kondisi bayinya cacat, Anis langsung meminta pulang bersama bayinya dari rumah dukun bayi Ny. Djannah. Atas saran sejumlah kerabat dan tetangga, bayi bernama Muhammad Basir itu kemudian dibawa ke Puskesmas Tongas.
Sementara itu Anis, yang kondisinya belum pulih usai persalinan, memilih beristirahat di rumahnya, Dusun Kapongan, Desa Wringinanom. Di Puskesmas, dr Fenti yang merawat Basir, mengaku, khawatir dengan keselamatan bayi berusia sehari itu.
Diakui, secara klinis, kondisi bayi laki-laki itu cukup sehat. Proses pencernaannya berjalan normal. Hanya saja, kondisi usus dan lambungnya yang berada di luar dinding perut cukup mengkhawatirkan.
"Agar tidak terjadi pembengkakan, lubang di perut itu kami tutup dengan kain kasa. Jika dibiarkan terbuka, ususnya bisa bengkak terkena angin," ujar dr Fenti.
Dengan alasan keterbatasan peralatan medis, dr Fenti kemudian menyarankan, bayi tersebut dirujuk ke RSUD Dr Moch. Saleh, Kota Probolinggo, Senin (23/11) pagi.
Selama berada di ruang ICU Dahlia, RSUD, bayi Basir hanya ditunggui Misri, budhe-nya. "Ibunya (Anis) istirahat di rumah, ayahnya (Shodik) harus wira-wiri untuk mengurus persyaratan mendapatkan Jamkesmas," ujar Misri.
Akhirnya Senin siang sekitar pukul 13.00, Shodik tiba di RSUD. Namun, ia belum membawa berkas untuk mendapatkan Jamkesmas. "Karena lama, saya minta bantuan saudara untuk mengurus surat-surat untuk Jamkesmas," ujar pria yang bekerja sebagai buruh tani itu.
Shodik mengaku, sempat frustasi karena kartu Jamkesmas belum di tangannya. Shodik pun sempat meminta pulang paksa bayinya yang belum sehari penuh di ruang Dahlia itu.
Sisi lain, pihak RSUD dr Saleh, Kota Probolinggo melayangkan tagihan Rp 163 ribu untuk biaya kamar. "Bingung juga, saya tidak punya uang untuk membayar biaya kamar.
Semakin bingung demi melihat anak saya yang ususnya belum dimasukkan,” ujar Shodik.
Beruntung kemudian Direktur RSUD Tongas, dr Indah bersedia menanggung biaya pengobatan sang bayi.
Kondisi Basir yang menderita cacat bawaan (kongenital) juga mendapat perhatian dari H Mahdi SE, anggota DPRD Jatim yang menyempatkan diri menjenguk bayi itu di RSUD.
"Jangan sampai bayi Basir dibawa pulang gara-gara tiada biaya. Kita semua berdosa kalau membiarkan bayi itu telantar,” ujar politisi PPP itu.
Perhatian terhadap nasib Basir terus mengalir. Wakil Bupati (Wabup) Salim Qurays menyatakan, Pemkab Probolinggo siap menanggung biaya pengobatan Basir. Dengan alasan peralatan medisnya lebih lengkap, Senin sore, Basir dirujuk ke RS Syaiful Anwar, Malang.
Laporan : Ikhsan Mahmudi