VIVAnews - Pada tahun 2010 mendatang, pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melakukan penyesuaian tarif air bersih khusus untuk rakyat miskin.
Hal ini dilakukan setelah pemerintah mendapat bantuan dari World Bank untuk pemasangan pipa penyalur air bersih bagi kelurga tidak mampu.
Bantuan yang diberikan secara hibah akan digelontorkan sebesar USD 2,5 juta atau setara dengan Rp 20 miliar. Namun pencairannya akan dilakukan setelah ada audit dari bank dunia.
“Pinjaman ini direncanakan sebagai grand (hibah) dari bank dunia tapi dibayarnya nanti setelah ada evaluasi,” kata Fauzi Bowo di sela-sela peninjauan proyek Global Partnership on Output-Based Aid (GPOBA) di wilayah Sumur Bor Rw 12, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu 25 November 2009.
Sementara waktu, biaya pemasangan instalasi ditalangi operator mitra PDAM.
Dengan adanya bantuan hibah ini, warga berpenghasilan rendah bisa menjadi konsumen PDAM dengan biaya pemasangan lebih murah dari umumnya.
Mereka cukup membayar Rp 120 ribu untuk pesang baru. Harga ini lebih murah dari pada biasanya yang mencapai Rp 620 ribu.
“Ini pun bisa diangsur pembayarannya selama 12 kali,” jelas Foke.
Meski demikian, pemerintah kata Fauzi tetap harus melakukan subsidi silang. Rencananya, tariff untuk golongan mewah harus dinaikkan untuk mensubsidi para konsumen air dikawasan kumuh dan miskin.
“Karena harga air menjadi lebih murah, jadi subsidi akan lebih besar,” katanya.
Saat ini tariff termurah diberikan dengan harga Rp 1050/m3-Rp3550.
Sementara untuk masyarakat mewah tariff air bersih bervariasi. Untuk golongan 4B yang digunakan untuk gedung bertingkat seperti hotel dan apartemen Rp 12.550 per m3.
Untuk golongan 4A (rumah mewah termasuk kedutaan dan konsulat) yang pemakainnya setiap 10 m3 dikenai Rp 6.825, jika pemakainnya 11-20 meter kubik Rp 8.150, di atas 20 meter kubik Rp 9.800.
Subsidi silang ini dilakukan karena bank dunia pun baru akan mengganti dana pemasangan sambungan baru setelah audit yang dilakukannya.
Apakah sudah sesuai dengan pemasangan standar palyja, kedua Apakan sebanyak 4.884 pelanggan itu pemakaiannya masing-masing 10 meter kubik perbulan.
Bila kurang dari angka itu, bank dunia tidak akan mengganti. Karena masyarakat kecil yang menjadi sasaran dianggap tidak terlalu membutuhkan bantuan air bersih.
Selama ini masyarakat kumuh khususnya yang berada di wilayah Sumur bor mendapatkan pasokan air bersih melalui pemasok air keliling. Mereka pun harus membayar Rp 2000 untuk mendapatkan satu drigen air bersih.