Metro

Macet Kian Kronis, Kirimkan Pendapat Anda!

Buruknya sistem transportasi massal membuat warga enggan beralih ke angkutan umum.

Senin, 7 Desember 2009, 10:19 WIB
Pipiet Tri Noorastuti
Arus Lalu Lintas Macet di Jalan Gatot Subroto (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Pertumbuhan kendaraan pribadi di Ibu Kota kian tak terkendali. Jika tak segera ada pembenahan pola transportasi, pada tahun 2014 Jakarta diprediksi akan mengalami kemacetan total.

Prediksi itu adalah ancaman serius. Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunjukkan, pertambahan jumlah kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 1.117 per hari atau sekitar 9 persen per tahun. Sementara pertumbuhan luas jalan relatif tetap, sekitar 0,01 persen per tahun.

Maka diperkirakan pada 2014, jalan tak lagi mampu menampung pergerakan kendaraan. Luas jalan sama dengan luas kendaraan pribadi yang dijajar di jalanan. "Jadi begitu Anda mengeluarkan kendaraan keluar rumah sudah langsung macet tak bergerak, kemacetan akan terjadi di depan garasi," kata Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia, Bambang Susantono, dalam perbincangan dengan VIVAnews, beberapa waktu lalu.

Buruknya sistem transportasi massal adalah penyebab utama liarnya pertumbuhan kendaraan pribadi. Tak adanya moda transportasi yang nyaman dan aman membuat warga enggan beralih ke angkutan umum. Bahkan keberadaan Bus Transjakarta baru berhasil mengalihkan sekitar 22,5 persen pengguna kendaraan pribadi.

Data Institute for Transportation and Development Policy menunjukkan, pengguna mobil yang beralih ke bus berjalur khusus itu atau busway hanya 7,1 persen, dan pengguna sepeda motor 15,4 persen. Sedangkan sisanya merupakan peralihan penumpang angkutan umum reguler seperti metromini, dan mikrolet.

Masih banyak pengguna kendaraan pribadi yang enggan beralih ke Bus Transjakarta lantaran fasilitas yang tersedia belum optimal. Belum ada gedung parkir di dekat shelter Bus Transjakarta, jalur pedestrian juga belum tertangani dengan baik.

"Saya sih mau beralih ke Bus Transjakarta, tapi menuju haltenya tidak ada angkutan yang nyaman (shuttle). Kalau mau bawa mobil sampai halte, gedung parkir juga tak ada di shelter-shelter," ujar Satria, pengguna mobil pribadi asal Duren Sawit, Jakarta Timur. "Mau nggak mau myway (kendaraan pribadi) masih yang terbaik."

Konsultan transportasi dari Institute for Transportation and Development Policy, Damantoro, mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus segera melakukan pembatasan penggunaan kendaraan untuk mengurai kemacetan Ibu Kota.

Ada sejumlah opsi yang bisa diterapkan untuk melakukan pembatasan penggunaan kendaraan. Di antaranya  electronic road pricing (ERP), pengaturan nomor polisi ganjil-genap, three in one, dan penetapan tarif parkir dengan harga tinggi.

Namun, sesuai pola transportasi makro Jakarta, kebijakan pembatasan penggunaan kendaraan harus diimbangi perbaikan sarana transportasi yang nyaman dan memadai. "Semua sistem harus terintegrasi," ujarnya.

Sementara itu, empat tahun menjelang 2014, pembenahan moda transportasi massal masih banyak yang berupa wacana. Operasional Bus Transjakarta tersendat, proyek monorel gagal, proyek Mass Rapid Transit (MRT) pun masih terganjal masalah tender.

VIVAnews akan membuka diskusi soal keadaan traffic Jakarta setiap hari. Kalau Anda punya pendapat dan kekeselan seputar kemacetan dan keadaan Jakarta, kirimkan via comment. Pendapat Anda kami muat di VIVAnews.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
joko
03/10/2010
jakarta macet karena udh bnyk yg lewat maka yg baik karena kondisi semakin berkembag maka nikmati aja perkembangannya, jangan sok ngeluh macet sehingga mencaci yg lain,apalagi sok sibuk kerja,sok orang penting, hingga menyingkirkan orang lain,
Balas   • Laporkan
Finaldo
14/03/2010
Jakarta macet ? Penyebab utamanya adalah karena tidak mem-prioritaskan pengembangan sistem transportasi massa seperti kereta api atau sub-way. Terlalu banyak oknum pejabat yang akan kehilangan pemasukan kalau transportasi massa berkembang. Jadi, sampai ka
Balas   • Laporkan
giri ib
14/03/2010
Agar ditertibkan pengguna SPD motor, yang makin liar saja sehingga menambah kemacetan bahkan sudah sampai menggunkan pedestrian sehingga menggaggu pejalan kaki. Termasuk angkot umum jg dilarang berhenti di lampu merah mencari penumpang. dipersilahkan diha
Balas   • Laporkan
yoki
07/12/2009
jakarta oh jakarta.. mana janji sang ahli ya?
Balas   • Laporkan
seto
07/12/2009
transjakarta gk dioptimalkan makanya pada balik lagi pake my way alias mobil pribadi.Udah datengnya lama, busnya sedikit, jalurnya diserobot, eh petugasnya juga diem aja.Mana pake rencana bikin tol baru...Emang gubernurnya ahli..ahli bikin macet jakarta.L
Balas   • Laporkan
indonesia bersatu
07/12/2009
sebenarnya kalo melihat kondisi ini sangat memprihatinkan. sederhana saja kalo mau bangun tol,MRT,Kereta dll perlu pendanaan yg mahal dan itu jangka panjang. sederhana saja coba diatur jadwal truk/kontainer yg memiliki bobot yg besar jgn masuk tol saat pa
Balas   • Laporkan
sugeng hamdani
07/12/2009
kemacetan jakarata lebih disebabkan banyak angkutan umum yg beroprasi tidak sesuai dgn trayeknya, ada yg satu trayek sampai 3 jenis mobil dgn bermacam-macam kode jurusan
Balas   • Laporkan
misrawi
07/12/2009
Seharusnya pemerintah mempunyai keberanian untuk memindahkan Ibukota Negara ke daerah lain
Balas   • Laporkan
thenox
07/12/2009
Gubernur seorang tidak bisa mengatur kendala kemacetan Jakarta. Ini sudah menyangkut kebijakan nasional. Pertumbuhan kendaraan di Jakarta juga dipicu dengan maraknya penjualan mobil-motor, perkembangan real-estate yang begitu pesat, dan terpusatnnya daera
Balas   • Laporkan
Anna Lestari Anwari
07/12/2009
Ya, benar banget!!.. tiada hari tanpa macet. Dan hal itu membuat stress.. Yang seharusnya ketika sampai kampus bisa fresh, malah stress duluan.. karena macet diperjalanan.. macet yang bener-bener maceeett..
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ