VIVAnews - Sejak diluncurkan awal Februari 2009 lalu, program Layanan Rakyat untuk Sertifikasi Tanah (Larasita) milik Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Selatan langsung disambut antusias warga.
Namun, dari 65 kelurahan di Jakarta Selatan, baru 10 kelurahan yang disambingi mobil pelayanan keliling itu dengan jumlah 528 permohonan.
Padahal, mobil Larasita dijadwalkan melayani masyarakat di setiap kelurahan minimal satu minggu.
Sepuluh kelurahan yang telah dilayani mobil Larasita BPN Jakarta Selatan yaitu, Ciganjur, Jagakarsa, Kebon Baru, Bukit Duri, Manggarai Selatan, Menteng Dalam, Tebet Timur, Cipedak, Pejaten Timur, dan Mampang Prapatan.
Kawasan itu dipilih karena merupakan pemukiman padat penduduk yang merupakan target dari program Larasita tersebut.
Terkait banyaknya kelurahan yang belum tersentuh pelayanan Larasita, Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberdayaan Masyarakat BPN Jakarta Selatan, Gunaryo, mengatakan, pihaknya akan terus menjalankan program Larasita hingga ke-65 kelurahan yang ada dapat terlayani.
"Kami akan berusaha agar ke-65 kelurahan bisa dikunjungi mobil Larasita," ungkap Gunaryo, Selasa 19 Januari 2010.
Gunaryo beralasan, pihaknya tidak dapat membuat jadwal yang pasti lokasi mana saja yang akan didatangi mobil Larasita.
"Minimal memang mobil Larasita di satu kelurahan standby selama satu minggu. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa sampai tiga minggu sesuai dengan kebutuhan masyarakat," jelasnya.
Pihaknya, kata Gunaryo, juga akan mendatangkan mobil Larasita ke Kelurahan Tebet Barat pada 4-14 Januari.
Namun karena terbentur dengan peluncuran kapal Larasita di Kepulauan Seribu, maka diundur menjadi 19 Januari.
Tetapi Gunaryo belum bisa memastikan berapa lama mobil Larasita akan standby di kelurahan tersebut. Sebelumnya mobil Larasita berada di Kelurahan Tebet Timur dari 14-24 Desember 2009.
Namun, berbeda dengan Program Nasional Agraria (Prona) yang dibebaskan dari biaya administrasi, program Larasita tetap dikenakan biaya bagi masyarakat yang mengurus surat menyurat.
Karena itu, adanya persepsi di masyarakat yang menganggap Larasita gratis juga dianggap menjadi kendala selama ini.
"Karenanya, jika di suatu tempat sedang berlangsung program Prona, maka Larasita ada baiknya tida berada di lokasi yang sama," pungkasnya.
Lurah Ragunan, Rahmat Basuki, mengaku hingga kini masyarakatnya juga bertanya-tanya kedatangan mobil Larasita itu ke kelurahan tersebut. Terlebih, dari 504,94 hektar lahan di Ragunan, sebesar 10 persen diketahui belum mendapatkan sertifikasi tersebut.
"Banyak warga yang datang ke saya dan bertanya kapan mobil pelayanan itu datang. Tapi, hingga kini mobil pelayanan itu belum pernah datang. Padahal, masih ada 10 persen lagi tanah di sini yang statusnya belum bersertifikat," ujarnya.