VIVAnews - Dari 1,1 ton sampah sumbangan rumah tangga di wilayah Jakarta Selatan, ternyata baru satu persennya yang diolah dan dimanfaatkan warga untuk peningkatan ekonomi.
Hal itu dikemukakan Plh Kepala Seksi Pengembangan Peran Serta Masyarakat, Suku Dinas Kebersihan Jakarta Selatan, Wahyudi Rudiyanto.
Menurut Wahyudi saat ini belum banyak masyarakat yang sadar untuk mengembangkan sampah organik menjadi kompos. Padahal, dengan mengembangkan kompos, dapat mengurangi beban angkut sampah. Terlebih, dari 136 truk sampah yang ada, hanya 100 yang masih berfungsi efektif.
“Sampah masyarakat sehari bisa mencapai 1,1 ton dan paling banyak berasal dari sampah rumah tangga. Karena hanya 100 armada saja yang efektif, maka hanya 88 persen saja yang terangkut. Sedangkan sebanyak 12 persen pengangkutannya tertunda,” ujar Wahyudi.
Wahyudi mengatakan sebenarnya Jakarta Selatan memiliki daerah yang patut dicontoh dalam hal pola pananganan sampah. Yakni di RW 03 Kelurahan Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan. Di mana warganya telah mampu menanggulangi sampah hingga level 0.
Bahkan, pengelolaan sampah yang dilakukan tidak hanya melibatkan masyarakat setempat, tetapi juga melibatkan pemulung yang kerap memanfaatkan sampah itu.
“Sampah-sampah yang ada di sana setelah diolah memiliki nilai ekonomis tinggi. Bahkan pemulungnya pun dikoordinir dan diberikan seragam khusus,” katanya.