VIVAnews - Tiga tahun silam, Walikota Bogor Diani Budiarto pernah menggagas pemakaian sepeda menuju kantor setiap Jumat. Itu bukan sekadar untuk mencari simpati, melainkan seruan agar masyarakat Kota Bogor mulai peduli lingkungan.
Waktu itu, Diani bilang budaya bersepeda perlu dimulai dari lingkungan pembuat keputusan, yakni pejabat pejabat pemerintah. Jika masyarakat melihat para pimpinan mereka memberi contoh hemat energi, maka tentunya masyarakatpun ikut.
Kampanye bersepeda ke tempat kerja, pada waktu itu benar-benar dilaksanakan. Tapi tidak berlangsung lama. Sebab sebagian pejabat menghentikan aktivitas bersepeda tiap jumat.
Mereka malah terkesan lebih nyaman menggunakan mobil ketimbang harus bersepeda walaupun cuma seminggu sekali.
Kini, Diani Budiarto kembali mengajak anak buahnya bersepeda. Puluhan aparat Pemkot Bogor yang dipimpin Wakil Walikota Ahmad Ru'yat setiap Jum’at bersepeda santai mulai dari Balaikota Bogor.
Bahkan, sebelum melakukan aktivitas kerja para pimpinan Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SPKD) yang terdiri dari Asisten, Kepala Dinas, Kepala Badan, Kepala Kantor, dan Kepala Bagian sejak pukul 06.00 pagi sudah berkumpul di halaman Balaikota Jalan Ir. H. Juanda.
Tepat pukul 07.00 pagi mereka mulai mengayuh sepeda dengan menelusuri jalan-jalan protokol di Kota Bogor. Sekitar dua jam mengayuh sepeda mereka kembali ke Balaikota untuk bekerja.
"Kami mengimbau kembali kepada seluruh jajaran SKPD untuk menggiatkan kembali bersepeda," Walikota Bogor yang dikutip dari situs Pemerintah Kota Bogor, Jumat 12 Maret 2010.
Diani mengatakan bahwa kondisi iklim saat ini sudah berubah, suhu udara di Bogor sudah kurang sejuk.
"Ini salah satu dampak dari buruknya penjagaan lingkungan, makanya kami ingin mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan kendaraan di saat-saat tertentu, khususnya pada Jumat," katanya.
Diani mengatakan berbagai upaya telah dilakukan Pemkot Bogor untuk pencegahan perubahan iklim. Walikota Bogor memberi contoh seperti program shift angkutan kota yang menjadi salah satu faktor mengurangi peningkatan jumlah emisi yang dihasilkan kendaraan.
Selain itu, pengalihan angkot dari BBM (Bahan Bakar Minyak) menjadi Bahan Bakar Gas (BBG) untuk 1000 unit angkot tahap awal akan segera direalisasikan. Upaya lain, kata Diani, yakni pemanfaatan minyak jelantah yang akan menjadi biodiesel untuk bahan bakar bus Traspakuan.