VIVAnews - Organisasi Angkutan Darat mengaku dilematis menyambut penurunan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Butuh sekitar sebulan untuk membahas penurunan tarif angkutan umum.
"Harga BBM turun, tapi harga spare part naik 15 persen akibat pengaruh penguatan dollar terhadap rupiah," kata Sekretaris Organda DKI Jakarta TR Panjaitan, Senin 15 Desember 2008.
Dia mengatakan, tarif angkutan umum tak hanya dipengaruhi harga bahan bakar, tetapi juga banyak aspek termasuk spare part. Harga bahan bakar hanya menyumbang 18 persen dari tarif utuh. "Tarif angkutan sudah seharusnya turun. Pengusaha angkutan jangan berkilah kalau spare part naik," Ketua Komisi B bidang transportasi DPRD DKI Jakarta, Aliman Aat menimpali.
Gubernur DKI Jakarta mengatakan, penurunan harga premium Rp 1.000 per liter dan solar Rp 700 per liter sudah cukup signifikan untuk menurunkan tarif angkutan umum. "Tapi itu semua harus ada kesepakatan," ujarnya.
Pemerintah kembali menurunkan harga premium Rp 500 pada Senin ini, 15 Desember menjadi Rp 5.000 per liter. Ini adalah untuk kedua kalinya setelah 1 Desember lalu, premium turun Rp 500 per liter. Sedangkan harga solar turun Rp 700 per liter menjadi Rp 4.800 perliter.