VIVAnews - Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Edi Toet Hendratno pesimistis tarif angkutan kota turun. Kalau pun turun, maksimal Rp 300.
"Saya nggak yakin pengusaha nggak mau menurunkan tarif angkutan umum," ujar Edi kepada wartawan, Senin 15 Desember 2008.
Dari perbincangannya dengan sejumlah pengusaha yang tergabung dalam organisasi angkutan, para pengusaha tidak mengisyaratkan ketertarikannya menurunkan tarif angkutan umum. Ada sejumlah kendala cost operasional yang menjadi pertimbangan. "Tak hanya harga bahan bakar, tetapi juga harga spare part, retribusi dan pungli," ujarnya.
Ketua Forum Warga Jakarta Azas Tigor Nainggolan mengatakan, faktor terkuat yang mempengaruhi tarif angkutan adalah pungli, bukan harga bahan bakar. Pungli mempengaruhi sekitar 40 persen, sedangkan harga bahan bakar hanya tujuh persen. "Jadi yang terpenting adalah bagaimana pemerintah bisa mengontrol pemberantasan pungli," ujar Azas.
Namun, Azas berpendapat, penurunan harga premium dan solar harus terasa dampaknya bagi masyarakat kelas bawah. Penurunan yang mencapai Rp 1.000 per liter cukup signifikan untuk menurunkan tarif angkutan. "Kalau tidak, ya pengelola harus membenahi kenyamanan angkutan untuk pengunjung," ujarnya.