VIVAnews - Kelangkaan gas elpiji sepekan belakangan membuat para konsumennya gelisah. Kondisi ini membuat sebagian warga beralih bahan bakar untuk kebutuhan dapur.
Atun, 36 tahun, warga Duren Sawit Jakarta Timur, mengakui sulitnya mendapatkan gas elpiji ukuran tiga kilogram. Kalaupun ada, harganya mencapai Rp 20 per tabung dari harga normal Rp 13 ribu. Selama seminggu, ia pun terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. "Sementara pakai kayu dulu, sampai harga normal," ujarnya, Rabu 17 Desember 2008.
Sedangkan Roziah, warga Kramatjati, dan Titiek, warga Petogogan, memilih menggunakan alat listrik penanak nasi (rice cooker) untuk mengolah makanan. Selama sepekan terakhir, keduanya sulit mendapatkan isi ulang gas.
Di tengah kegelisahan warga akibat kelangkaan ini, keceriaan tetap dirasakan Munamah, 50 tahun. Warga Jalan Pemancingan Dalam, Srengseng, Jakarta Barat itu tetap dapat melanjutkan usaha nasi uduknya dengan lancar.
Sikapnya yang tak mau mengikuti anjuran pemerintah melakukan konversi bahan bakar justru menyelamatkan usahanya. "Saya masih takut pakai kompor gas," ujar wanita yang selama 15 tahun terakhir menggunakan bahan bakar kayu untuk memasak.
Masyarakat masih kesulitan mendapatkan isi ulang gas di pasaran, meski pasokan dari Pertamina ke sejumlah Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) mulai lancar. Jumlah pasokan belum sebanding dengan permintaan konsumen. Bahkan SPPBE Srengseng Jakarta Barat membatasi penjualan kepada agen dan pedagang eceran.