Metro

Akhir 2010, Enam Tol Dalam Kota Ditender

Total nilai investasi mencapai Rp40,02 triliun dengan panjang ruas jalan tol 67,74 km.

Jum'at, 20 Agustus 2010, 07:46 WIB
Siswanto, Sandy Adam Mahaputra
Proyek jalan tol Becakayu (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews – Pemerintah Jakarta berencana membangun enam jalan tol dalam kota. Nantinya, seluruh ruas jalan itu akan dibangun sebagai jalan susun. Diperkirakan, proses tender akan dibuka pada akhir 2010. Demikian dinyatakan Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo, di Balaikota Jakarta, semalam.

Realisasi pembangunan ini, kata dia, untuk mengimbangi pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor dengan pertumbuhan jalan yang tersedia.

Fauzi menjelaskan rencana pembangunan enam jalan tol ini dibagi dalam empat tahap. Tahap pertama akan dibangun dua ruas, yakni Koridor Semanan-Sunter (17,88 kilometer) dengan nilai investasi Rp9,76 triliun dan Koridor Sunter-Bekasi Raya (11 kilometer) dengan investasi Rp7,37 triliun.

Di tahap kedua, akan dibangun Koridor Duri Pulo-Kampung Melayu (11,38 kilometer) dengan nilai investasi Rp5,96 triliun dan Kemayoran-Kampung Melayu (9,65 kilometer) dengan investasi Rp6,95 triliun.

Kemudian, di tahap ketiga dibangun Koridor Ulujami-Tanah Abang (8,27 kilometer) dengan nilai investasi Rp4,25 triliun. Baru di tahap yang terakhir akan dibangun Koridor Pasar Minggu-Casablanca (9,56 kilometer) dengan investasi Rp5,71 triliun.

Total nilai investasi mencapai Rp40,02 triliun dengan panjang ruas jalan tol 67,74 kilometer.

Rencana ini, kata Fauzi, telah diputuskan Kementerian Pekerjaan Umum sejak 2008. Proyek ini merupakan bagian dari jaring jalan tol nasional di Pulau Jawa.

Pemerintah Jakarta, kata dia, akan memprioritaskan pembangunan tahap pertama pada ruas Timur-Barat: Semanan-Sunter dan Sunter-Bekasi Raya. Pembangunan ini sekaligus bertujuan untuk mendukung kawasan sentra primer barat dan timur.

Direktur PT Pembangunan Jaya, Sutopo, menambahkan mekanisme pelaksanaan proyek pembangunan enam ruas tol ini sudah ditentukan dalam PP Nomor 33 Tahun 2010 tentang Pelelangan. Dalam PP itu dikatakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dapat bertindak sebagai pemrakarsa pelaksanaan proyek dan mempersiapkan lelang.

“Lelang terbuka untuk siapa saja. Dan BUMD DKI juga bisa mengikuti proses pelelangan itu. Pengoperasian jalan tol juga dilakukan oleh pemenang lelang,” kata Sutopo.

Saat ini, bertindak sebagai pemrakarsa rencana pembangunan adalah konsorsium BUMD DKI yang terdiri dari PT Jakarta Propertindo dan PT Pembangunan Jaya Group. (kd)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
iwaffle
21/09/2010
Mestinya yang diperbanyak dibangun jalan arteri bukan jalan tol, percuma hanya dinikmati segelintir orang, tidak memecahkan masalah kemacetan.
Balas   • Laporkan
irwan ramanda
21/09/2010
betul banget, kereta solusi yang paling tepat mengurai kemacetan,mestinya berimbang,perlu jg pelebaran jalan,pembatasan kendaraan,jalan tol baru dan mestinya semua dalam satu koordinasi, satu atap kan sama2 punya misi yang sama..
Balas   • Laporkan
Nakita
20/08/2010
Kenapa jalan tol lagi. Mengapa bukan jalur kereta? Lalu bagaimana nasib jalan tol yang lama. Berapa tahun lagi jalan tol tersebut dipegang oleh swasta. Bukankah seharusnya ada waktu tertentu dimana jalan tersebut dikembalikan ke pemda dan rakyat?
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ