VIVAnews – Usai Lebaran 2010, Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) akan menggelar pertemuan menindaklanjuti rekomendasi 17 langkah strategis untuk mengatasi kemacetan di Jakarta.
Forum pertemuan akan dihadiri berbagai pihak yang selama ini memiliki konsen terhadap permasalahan transportasi, seperti lembaga Masyarakat Transportasi Indonesia, Pusat Kajian Angkutan, pengamat, dan kementerian terkait. Demikian dijelaskan Ketua UKP4, Kuntoro Mangkusubroto, di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Selasa, 7 September 2010.
Menurut mantan Menteri Pertambangan dan Energi itu, pertemuan bersama ini berperan penting untuk menunjang kemajuan rekomendasi 17 langkah strategis itu. Karena, katanya, pemerintah perlu masukan dari mereka. Lagi pula, lanjut Kuntoro, untuk menangani kemacetan Ibukota diperlukan kerjasama dari berbagai pihak. “Angkutan ini masalah dari banyak sektor, bukan satu sektor saja. Kalau sekian banyak sektor itu tidak bersatu menangani, ya repot.”
Kuntoro menekankan kunci untuk membereskan persoalan transportasi di Ibukota Jakarta ini ialah koordinasi dan integrasi antarpemangku kepentingan.
Ia menyontohkan pentingnya koordinasi pada proyek bus Transjakarta. Katanya, proyek tidak akan berhasil mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan Transjakarta jika tidak disediakan fasilitas seperti tempat parkir atau penitipan kendaraan pribadi di sekitar busway.
Kuntoro menyontohkan lagi pentingnya integrasi. Ia mengambil contoh proyek Transjakarta lagi. Proyek ini dapat berhasil jika di titik tertentu disediakan tempat pemberhentian bagi penumpang yang akan beralih ke angkutan umum lainnya, seperti bus atau kereta api.
“Jadi anda bisa lihat, kita enggak bisa sendiri-sendiri dan enggak bisa sepotong-sepotong,” kata Kuntoro.
Adapun 17 langkah strategis itu, di antaranya percepatan pemberlakuan electronic road pricing (ERP), sterilisasi jalur busway, menambah dua jalur busway menjadi 10 jalur tahun ini, dan dua jalur tambahan tahun depan.
Selain itu, pelayanan kereta api dioptimalkan, penambahan gerbong di rute yang padat sehingga dapat mengangkut tiga juta orang per hari. Kemudian, MRT Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia mulai direalisasikan pada 2011 dan dilanjutkan dengan pembangunan monorail.