VIVAnews - Selalu berbeda dalam menetapkan 1 Ramadan dan Idul Fitri membawa kesan bahwa Tarekat Naqsabandiyah di Sumatera Barat (Sumbar) menjadi yang terdepan. Terdepan dalam artian selalu duluan untuk menetapkan dua hari besar tersebut dibanding ketetapan pemerintah.
Apa yang membuat warga tarekat ini masih mampu mempertahankan keyakinannya? Dari segi jumlah, pengikut tarekat Naqsabandi di Sumbar diperkirakan hampir mencapai delapan ribuan.
Jumlah tersebut tidak seberapa dibanding jumlah penduduk Sumbar yang diperkirakan mencapai enam juta orang, hanya sepersekian persen dari total penduduk Sumbar yang menjadi pengikut tarekat ini.
Meskipun sedikit, keyakinan mereka akan pembuatan kalender sendiri yang berdasarkan Kitab Munjid—kitab yang kononnya diterbitkan dari Timur Tengah—membawa petinggi aliran ini diundang Menteri Agama untuk menetapkan 1 Syawal.
"Kamis kemarin (2 September 2010) Kementerian Agama mengundang kita ke Jakarta dan menanyakan kenapa Naqsabandiyah selalu lebih awal," ujar Sekretaris Naqsabandiyah Sumbar Edijon Revindo, Rabu 8 September 2010.
Pemerintah sempat menanyakan dasar tarekat ini dalam menentukan awal Ramadan. Dasar yang kuat membuat penganut tarekat ini masih bertahan dengan kebenaran Kitab Munjid.
Kitab Munjid mengajarkan tentang cara menghisab (menghitung) bilangan hari untuk masa lima tahun ke depan. Yang pasti, Ramadan bagi warga Naqsabandi selalu digenapkan menjadi 30 hari.
Hal tersebut mempermudah warga Naqsabandi untuk menetapkan 1 Syawal (Lebaran). Kapan 1 Ramadan pun telah ditetapkan sekali dalam lima tahun, sehingga tidak ada keragu-raguan lagi.
"Dibanding aliran lain, hanya kita yang punya dasar untuk menetapkan 1 Ramadan. Berdasarkan kitab itu (Munjid)," kata Buya Edijon yang akrab disapa Buya Jon.
Ia mengakui, pemerintah tidak memaksakan pada mereka untuk berlebaran bersamaan dengan ketetapan pemerintah. "Kita tidak menginginkan perbedaan ini memperuncing antara kita," ujarnya.
Persoalan Regenerasi
Tarekat Nagsabandiyah diyakini masuk ke Sumbar pada abad ke-18 yang dibawah Syech M Tayib. Hampir dua abad berkembang di Sumbar, penganut aliran ini terkesan stagnan dari segi pertumbuhan jumlah pengikut.
Persoalan itu diakui Buya Jon sebagai persoalan bagi perkembangan Naqsabandiyah ke depan. "Regenerasi ini menjadi persoalan kita ke depan. Dahulu hal ini sempat terjadi saat Syekh H Munir meninggal," ujarnya.
Jamaah dari ajaran ini pun terlihat didominasi kalangan berumur. Dan ini menjadi masalah kelangsungan dari tarekat Naqsabandiyah tersebut. Tradisi ajaran ini juga tidak mewajibkan keturunan mereka untuk menganut tarekat yang sama.
Belum lagi perbedaan-perbedaan yang muncul dari sejumlah khalifah Naqsabandiyah di Sumbar. "Ada juga Naqsabandi di Padang yang lebarannya sama dengan pemerintah. Ini tidak ada masalah," tutur Buya Jon.
Saat ini, tarekat Naqsabandiyah di Sumbar dipusatkan di Padang. Buya Syafri Malin Mundo dipercayai sebagai ketua ajaran tersebut di Sumbar. Keputusan ini ditetapkan sejak tanggal 2 September lalu setelah menerima undangan dari Kementerian Agama. (adi)
Laporan: Eri Naldi | Padang