Metro
Sarwono Kusumaatmadja

Membayangkan Ibu Kota Pindah

Tidak ada di dunia ini satu kota yang merangkap banyak fungsi seperti Jakarta.

Jum'at, 9 Januari 2009, 17:12 WIB
Maryadie, Sandy Adam Mahaputra
Sarwono Kusumaatmadja (perspektif.net)

VIVAnews - Sarwono Kusumaatmadja, nama ini begitu lekat dengan Kota Jakarta. Kiprahnya di mata warga tanah Betawi terlihat saat dia mencalonkan diri menjadi calon gubernur DKI Jakarta tahun 2007 lalu.

Anggota DPD asal Jakarta ini punya pandangan khusus terhadap Jakarta. Kata dia, penduduk di Jakarta sudah sangat padat. 

Menurutnya, ada 9.000 orang per kilometer persegi, bahkan hingga 14.000 orang, seperti di daerah Jakarta Utara dan Jakarta Pusat.  "Ini berarti daya tampung Jakarta sudah terlewati," ujar pria lulusan Teknik Sipil ITB, 1974 ini.

Dia membayangkan jika Ibu Kota bisa dipindahkan. "Jika pelabuhan dan pusat pemerintahan pindah, maka Jakarta ini bisa direncanakan ulang," katanya.

Dengan demikian kualitas Jakarta untuk keluarga bisa naik, karena banyak ruang-ruang terbuka yang akan di desain kembali.

Sarwono menilai banyak pembangunan di Jakarta yang justru membah ruwet Kota Jakarta. Dia mencontohkan, dengan adanya pembanguan jalan tol dalam kota. "Mungkin jalan tolnya lancar, tapi luar jalan tol tetap saja macet," katanya.

Dia juga mengusulkan perlu adanya kebijakan makro yang dilakukan pemerintah pusat. Selain kebijakan makro, ada hal lain yang harus dipelopori oleh pemerintah pusat, yaitu perencanaan wilayah Jakarta. "Harus tunduk pada suatu rencana masih banyak yang tidak patuh,"  ujarnya. 

Dirinya menilai persoalan yang paling gawat untuk Jakarta adalah menumpuknya segala macam fungsi di Jakarta. Hal ini disebabkan adanya warisan rezim yang sentralistik.

Jakarta menjadi pusat perdagangan, pendidikan, pelabuhan terbesar. "Tidak ada di dunia ini satu kota yang merangkap fungsi yang banyak seperti Jakarta," kata dia.

Sarwono terlahir dari pasangan Mohammad Taslim Kusumaatmadja dan Sulmini Kusumaatmadja. Kecintaan pria kelahiran Jakarta 24 Juli 1943 pada politik ini tidak datang dengan sendirinya.

Saat masih duduk di bangku SD, Sarwono kecil sudah senang mendengar perdebatan soal politik di rumahnya.

Darah politik makin mengental saat adik kandung mantan Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja ini aktif di organisasi kampus pada tahun 1960-an.

Dia menjadi ketua Dewan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dan ketua Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), organisasi kemahasiswaan yang berdiri pada 1948. Keaktifannya di dunia pergerakan mahasiswa inilah yang membawanya ke Senayan.

Setelah berkiprah di Senayan, perjalanan politik Sarwono terus melambungkan dirinya bersama tokoh politik lainnya.

Pria berkacamat ini menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara  dan Menteri Negara Lingkungan Hidup di masa pemerintahan mantan Presiden Soeharto.

Saat kekuasaan negara berada di tangan Gus Dur, mantan sekjen Partai Golkar ini dipercaya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Kematangannya sebagai politisi terus teruji saat dia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari DKI Jakarta ketika Pemilu 2004 lalu.

Dia terus melebarkan karir politiknya dengan mencalonkan diri sebagai gubernur DKI Jakarta saat Pilkada 2007 lalu. Walaupun akhirnya gagal, Sarwono tetap concern terhadap masalah Jakarta. Terlebih lagi posisinya, yang saat ini masih menjadi anggota DPD.

Putra Betawi asli ini mengaku dekat dengan warga Jakarta sejak menjadi anggota DPD. “Saya tidak terlalu akrab, ketika dulu jadi menteri," tutur Sarwono saat berbincang dengan VIVAnews di kantornya, di kawasan Simprug, Jakarta Selatan.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
taufik
10/08/2010
kota jakarta harus pensiun dari jabatanya sebagai ibu kota agar jakarta menjadi kota yang bersih rapih indah yang di idam idamkan oleh warganya
Balas   • Laporkan
taufik
10/08/2010
sudah saatnya jakarta pensiun dari jabatan ibu kota. Tata kembali agar indah,layak, dan menjadi kota yg di idam idamkan oleh warganya
Balas   • Laporkan
tri abiyasa
01/08/2010
Betul, Jakarta mm menumpuk sejuta fungsi n segudang masalah. Jakarta tak lagi indah n nyaman untuk menjadi Vila negeri ini. Berjubal, macet, semrawut n ngga bikin kita nyaman menikmati Ibu Kota. Jika mm Para Petinggi negeri ini masih Enjoi, Silahkan Aja.
Balas   • Laporkan
tri abiyasa
01/08/2010
Betul, Jakarta mm menumpuk sejuta fungsi n segudang masalah. Jakarta tak lagi indah n nyaman untuk menjadi Vila negeri ini. Berjubal, macet, semrawut n ngga bikin kita nyaman menikmati Ibu Kota. Jika mm Para Petinggi negeri ini masih Enjoi, Silahkan Aja.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ