VIVAnews - Banyak kalangan yang menyarankan agar ibukota pemerintahan dipindahkan dari Jakarta. Selain karena sudah terlalu padat, Jakarta juga dinilai kian semrawut.
Menanggapi wacana ini, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo berpendapat biar bagaimana juga, Jakarta akan tetap menjadi pusat kegiatan.
Manurutnya, jika ingin meringankan dengan memindahkan salah satu fungsi di Jakarta, yang paling realistis adalah memindahkan fungsi pemerintahannya saja. "Jadi seperti Putra Jaya. Ibukota akan tetap di Jakarta. Sekarang kita coba mengembangkan Greater Metropolitan Area, di situ saya harap fungsi itu lebih tersebar dan diback-up infrastruktur yang cukup. Karena kalau tidak di-back up infrastruktur yang memadai, dia akan kacau lagi," ucap Fauzi Bowo saat berkunjung ke kantor redaksi VIVAnews.com, Menara Standard Chartered, Jalan Prof Dr Satrio, Casablanca, Jakarta, Selasa sore.
Selain itu, lanjutnya, instrumen pengendali harus jelas dan ada di tangan pemerintah. "Saya melihat, might be the one realistic choice ketimbang memindah ibukota ke daerah lain. Saya pernah mengikuti yang namanya mindahin Bond ke Berlin. Itu kalau bukan Republik Federal Jerman tidak akan mampu," kata dia lagi.
Dia menambahkan, nantinya pemerintah akan mengalami kesulitan karena harus mencari area yang cukup besar yakni 800 hektare. Itu artinya, tidak mudah untuk memindahkan pusat pemerintahan.
Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo menilai terlalu mahal jika membangun kota baru seperti Canberra, dan Brazilia.
Sebab harus menyediakan fasilitas untuk orang yang bekerja di kota baru itu, lalu harus memberi insentif. "Membangun kota bukan sekadar bangun fisik tapi harus menciptakan jiwa kota itu. Kalau tidak akan jadi kota mati. Tidak akan ada orang yang mau tinggal di sana," ujarnya. (adi)