VIVAnews - Warga Tanah Merah, Jakarta Utara membangun toilet di depan kantor Kementerian Dalam Negeri. Mereka sudah 20 hari menginap di sana, mendesak Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi menerbitkan KTP resmi untuk mereka.
Melihat pembangunan toilet tersebut, Gamawan Fauzi mengatakan, akan segera mengambil tindakan tegas. "Atas izin siapa? Kan membangun harus ada izin. Jangan main-main lah. Kalau mau demo itu hak warga negara," ujar Gamawan gusar di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin, 6 Februari 2012.
Gamawan mengatakan akan pihaknya akan merobohkan apapun yang akan dibangun oleh demonstran Tanah Merah di wilayahnya. "Saya akan robohkan. Jangan main-main. Kalau mau ganggu, kami akan tindak," kata Gamawan.
Gamawan mengaku tidak bisa memberi e-KTP kepada warga Tanah Merah karena yang berhak memberi e-KTP adalah Gubernur.
"Karena itu terkait RT RW dan keberadaan tanah. Bagaimana saya tentukan RT RW? Pengaturan RT RW saya nggak bisa intervensi. Dan saya sudah tanya Gubernur (Fauzi Bowo), mereka sudah punya KTP semua di tempat yang bermacam-macam, cuma mereka minta KTP yang di Tanah Merah, itu yang tidak bisa, itu tidak mau gubernur," jelasnya.
Salah seorang warga Tanah Merah, Haris Wiyono mengatakan pembangunan toilet diperuntukan bagi warga Tanah Merah yang menginap di depan Kantor Kemendagri.
Dana pembuatan toilet ini berasal dari iuran warga Tanah Merah, dengan dana sekitar Rp800 ribu.
Sebelumnya warga Tanah Merah telah berupaya untuk mendapatkan KTP resmi, mulai dari mendatangi Balai Kota, menginap di Kemendagri, hingga menggantungkan BH di pagar depan kantor Kemendagri. (umi)
. Ktp kan bukan bukti kepemilikan tanah.Dan wajib dimiliki oleh warga negara. kalau masyarakat tidak bisa memiliki KTP salah siapa? ya.. tentu masyarakat yang salah, karena pejabat nggak pernah salah, kalupun itu terjadi pasti yg salah itu administrasinya
Warga Tanah Merah adalah warga pendatang yng tinggal dikawasan yng tanahnya di miliki oleh pemerintah daerah DKI dan swasta...seharusnya tidak bisa memiliki KTP kependudukan DKI...mrk sudah pasti memiliki KTP dari daerah mrk masing2..
Saya setuju atas murkanya bapak sama mereka. buat malu aja apakah ini yang dimaksud dengan demokrasi yang ujung2nya demo. Apa kata dunia melihat demokrasi negara kita ini!!!
penonton jangan ikutan berantem!! kalo ente pada berantem sama aja dgn yang lagi demo itu dong?? jernihkan pikiran kita, baru segitu yang kita punya setelah 60 tahun lebih merdeka. kenapa Jepang bisa lebih maju padahal 1942 dibom atom?
uda dikasih hati,,,mau jantungnya,, ya ga dikasihlahhh,, skr dikasih ktp,,, besok dia minta dibuatkan sertifikat tu tanah,, mau digusur,,, minta uang kerohiman,, trus minta apalagi???
Terkadang sebagian rakyat Indonesia memang semaunya sendiri,kalo nggak diberi langsung demo. Ini kan negara yg punya peraturan dan hrs ditaati oleh siapapun nggak peduli rakyat"kecil" atau rakyat "besar".Disiplin dimulai dr lapisan yg paling bawah!
Atas nama Demokrasi Rakyat?Menjarah tanah Milik Negara dan Maen paksa untuk Minta KTP.Apa kata Dunia? Paling yg maksa minta KTP pasti Bukan Rakyat. Mereka adalah Penjarah Tanah Negara atas nama Orang Banyak.Kalo dibiarin.Besok rakyat papua minta merdeka.
saya setuju dg pak mendagri, demo boleh aja tapi jangan ngawur lah, lagipula beliau sudah menjelaskan bahwa yg diminta itu wewenang gubernur, jadi demo-nya salah alamat, sama dg komentar joomyway dan maarhalim: komentar anda salah alamat & tdk relevan