Ribuan Buruh Jakarta Ancam Demo Besar-besaran
Itu buntut kekecewaan akibat kenaikan upah tak kunjung ditetapkan.
Kamis, 9 Februari 2012, 08:58 WIB
Desy Afrianti, Dwifantya Aquina
Demonstrasi buruh (ANTARA/Widodo S. Jusuf)
VIVAnews - Ribuan buruh di Jakarta mengancam menggelar unjuk rasa secara besar-besaran. Itu merupakan buntut kekecewaan mereka akibat kenaikan Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) DKI Jakarta 2012 yang tak kunjung ditetapkan.
Forum Buruh DKI Jakarta mendesak Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, untuk segera menetapkan UMSP DKI 2012 paling lambat pada 13 Februari mendatang.
“Mengapa UMSP belum juga disahkan Gubernur? Padahal, sudah memasuki bulan Februari. Sedangkan, berdasarkan aturan hukum, UMSP sudah harus ditetapkan pada Januari 2012,” kata Juru Bicara Forum Buruh DKI Jakarta, Muhammad Rusdi, di Balaikota DKI Jakarta, Kamis, 9 Februari 2012.
Mereka juga menyampaikan petisi yang isinya antara lain meminta segera ditetapkan UMSP DKI 2012 dengan nominal yang lebih tinggi dari daerah penyangga seperti Kota dan Kabupaten Bekasi, dan Tangerang. Alasannya posisi DKI Jakarta sebagai ibukota negara dan barometer bagi daerah lain.
Mereka juga mendesak untuk memasukkan sektor retail dalam UMSP DKI 2012, seperti yang sudah disepakati dalam rapat Dewan Pengupahan DKI pada 25 Januari lalu. Selain itu, juga memasukkan delapan perusahaan sektor logam--yang sempat tertunda--dalam UMSP 2012.
“Kami juga kecewa kepada Dewan Pengupahan DKI yang menganulir masuknya sektor retail ke dalam UMSP 2012. Padahal sektor ini sudah dijanjikan masuk sejak tahun 2010,” ujarnya.
Jika pada 13 Februari 2012, besaran kenaikan UMSP DKI 2012 belum disahkan, Rusdi menyatakan Forum Buruh DKI Jakarta akan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran di depan Balaikota DKI selama dua hari, 13-14 Februari 2012.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta, Deded Sukandar, menerangkan rekomendasi kenaikan UMSP DKI 2012 telah diserahkan ke tim verbal Gubernur DKI Jakarta pada 10 hari lalu, atau Senin, 30 Januari 2012.
“Saya tidak tahu sudah sampai mana proses verbalnya. Sebab, prosedurnya harus ditandatangani Asisten Perekonomian terlebih dahulu, baru ditandatangani Sekretaris Daerah dan terakhir ditandatangani Gubernur,” ucap Deded.
Sedangkan Asisten Sekretaris Daerah DKI Jakarta bidang Perekonomian dan Administrasi, Hasan Basri Saleh, meminta pekerja bersabar menunggu pengesahan UMSP DKI 2012.
“Sudah dalam proses verbal, jadi tinggal tunggu waktu pengesahannya. Karena kami harus memeriksa dulu rekomendasi tersebut sebelum ditandatangani. Lagi pula, UMSP DKI 2012 itu berlaku surut. Jadi tetap akan dibayarkan mulai dari Januari 2012,” ucapnya. (kd)
karunia_dwi_karyati
10/02/2012
makanya para pengusaha, jgn mmperkaya dri sndri aja.. pkirin jg dong nsib krywannyaaaaa kan tanpa karyawan yang bekerja, perusahaan tdk ada apa2nya,, sperti negara aja, diakui kalo ada rakyatnya, kalo gk ada rakyatnya bkn negara nmanya, :)
Nuntut terus sana,mogok kerja terus. Ntar kalo perusahaannya pada kabur ke negara tetangga yg buruhnya lebih bisa diajak kerja sama baru kapok. Negara tetangga pada nunggu investor yg lari dr Indonesia.
buruh yg suka bikin rusuh silahkan lamar jadi tki di saudi, udah gajinya gede, terhormat lagi kerja sama keturunan nabi.. win-win solution
Kenapa ya sekarang pemerintah kok bisa diatur sama buruh ? Artinya Buruh sekarang lebih pinter/ngerti/canggih dari Bupati/Gubernur/Menetari/Presiden/bahkan Anggota Dewan. Biarpun buruh tau kl tindakannya menggangu warga yg lain, tetap neeeeeeekattt.ujk rs
taufik.h.soekarnoputra
|
09/02/2012
|
Laporkan
trus knp, lo keberatan kalo buruh pada tanbah pinter ?
cak_tris
09/02/2012
hemmmm macet lagi macet lagi ....dasar ...demo c demo tapi sebaik nya gak nyusain orang lain ...tutup j pabrik nya ...gak perlu blokir jalan ...tambah nyusain orang j ...huufff
Silakan demo sebesar-besar nya asal jangan anarkis dan dilakuan dihalaman/didepan pabriknya masing2 aja selama jam kerja. Jangan nyusahin org lain yg tdk berhubungan dengan kerja anda, jangan rasa simpati menjadi antipati.
Jika yang dipilih adalah opsi ekonomi kapitalistis, maka wajar jika muncul demo buruh. Mekanisme adalah demand dan supply toh? Supply tenaga kerja 'kan berlebih jadi bisa dihargai rendah. Buruh 'kan tdk mau dihargai murah terus. Msh mau pilih kapitalisme?
Bl keadaan (pr pemimpin trs berkelakuan spt skrg ini), mk keadaan akan semakin buruk lg dimasa-masa mendatang. Demokrasi akan berubah menjadi anarki & penguasa akan menjadi diktator bertameng ketertiban & keamanan.
Mslhnya skrg ini, semuanya semaunya sendiri. Pmrnth bikin kebijakan semaunya (utk enak) sendiri. Makanya masyrktpun jd semaunya sendiri jg. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Tak ada suri tauladan dr pemimpin. Jd...sdh serba salah negeri ini.
Menurut pendapat saya lebih baik bila: 1.melakukan demo jgn di jalan2. Karena mengganggu pengguna jalan lainnya (sopir angkutan umum yang butuh setoran, mobil ambulan yang membawa orang sakit, atau pun orang2 lain yang mungkin saat itu ingin butuh waktu)
qwerty432
|
09/02/2012
|
Laporkan
Tapi masalahnya pemerintah terkesan(selalu)menunggu ada aksi baru cepat2 menyelesaikan.Kalau hanya mogok kerja di tempat masing2 paling pemerintah cuma bilang tolong dilakukan dialog pengusaha dan pekerjanya.
rpg7
|
09/02/2012
|
Laporkan
ada nomor 1 kok gak ada nomor berikutnya ya ???
cah_bagus
|
09/02/2012
|
Laporkan
2. Melakukan demo dengan cara libur bersama ( bayangkan bila 1 kota tidak ada aktifitas kerja ) setidaknya pemerintah akan tebuka matanya. itu sekedar saran saya saja. Mohon maaf bila tidak setuju dgn pendapat saya.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar