VIVAnews - Bentrok antar kelompok pecah di rumah duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jalan Abdul Rahman Saleh, Jakarta Pusat dini hari tadi. Salah seorang penjaga rumah duka bernama Purwanto, mengatakan akibat keributan itu tiga orang tewas.
"Dua tewas lokasi, satu lagi tewas dalam perjalanan ke rumah sakit," kata dia di lokasi, Kamis 23 Februari 2012.
Menurutnya, kejadian berawal saat sekelompok orang sedang menyemayamkan seorang kerabatnya yang meninggal di Kamar A rumah duka RSPAD. Namun, puluhan orang membawa senjata tajam secara tiba-tiba menyerang membabi buta.
"Mereka membawa dua mobil dan satu taksi. Bawa samurai dan golok. Yang di dalam tidak pegang apa-apa," lanjutnya.
Dia menjelaskan, polisi baru datang ke lokasi setelah bentrok usai, dan para pelaku pengeroyokan sudah langsung melarikan diri. "Petugas langsung mengidentifikasi korban yang tewas," ucapnya.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar, mengungkapkan penyidik masih mendalami motif bentrokan ini. Menurut Rikawanto, berdasarkan data yang diperoleh anggota di lapangan, korban tewas berjumlah dua orang.
"Yang tewas sudah dibawa ke RSCM, dan empat luka dilarikan ke rumas sakit Mitra Kemayoran," ujar Rikwanto. Polisi masih berjaga-jaga di tempat itu meskipun situasi terlihat membaik.
itu masalah mereka , biar mereka yg selesaikan ,, yg penting mereka gak selalu bikin kerusuhan dan kericuhan yg terus2 meresahkan warga , pake bawa2 nama agama lg , kaya itu tuh ada organisasi apa namanya ???
lady_dy
| 24/02/2012
|
Laporkan
harusnya rumah sakit, tempat ibadah dll sesuai yg diatur dl hukum humaniter g boleh ada rusuh...terlalu aja tuh yg rusuh,,proses segamblang2nya,,,jgn terpancing provokasi agama
iron maiden
| 24/02/2012
|
Laporkan
ya, mereka saling bunuh tanpa tereak2 allahu akbar spt fpi saat dicikeusik
"Dua tewas lokasi, satu lagi tewas dalam perjalanan ke rumah sakit," kata dia di lokasi, Kamis 23 Februari 2012. mengapa harus perjalanan ke rumah sakit? bukankah TKP di RS?
@ ironmaiden : PERASAAN KAGAK ADA NYANG KOMEN TTG FPI DAH.. ENTE SENTIMEN AMAT BANG? ADA DENDAM PRIBADI YE.. -berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa-..
iron maiden
| 24/02/2012
|
Laporkan
coba loe ingat, penyerbuan rumah warga ahamdiyah di cikeusik yg menewaskan 3 orang, itu ulah fpi yg gak beda dgn preman2 ambon
aditiar
| 23/02/2012
|
Laporkan
KANG IRON..KANG IRON COBA LEBIH OBJEKTIF DLAM MEMANDANG SEBUAH MASALAH. KEBENCIAN MEMBUAT ANDA BERSIFAT ANEH....EMANG FPI PERNAH MALAK, NGEBUNUH ORANG YG BAIK, ANDA MERUPAKAN SALAH SATU KORBAN MEDIA...KASIAN DEH GAN
iron maiden
| 23/02/2012
|
Laporkan
coba loe baca kalo loe gak buta, komentar wahyu fredy dibawah, gw gak dendam dgn fpi,gw malah kasihan dgn fpi yg cuma brani keroyokan, gak beda dgn john kei cs, kalo brani 1 lawan 1 gw layani si riziq
solusi konkret buat pmrnth.1. ganti nama kampung2,,gak ada kampung jawa ambon arab betawi dsb,rasis!2.hukuman mati paling adil untuk pembunuhan,org bakal mikir sblum bunuh.ketiga pecat semua polisi,,ganti sementara dgn TNI.seleksi moral calon pol.
rawuhhakim
| 23/02/2012
|
Laporkan
gak usah sebegitunya brader semua....yang penting cari jabatan jangan pakai uang tombokan, yakin Indonesia maju.
adamsmix
| 23/02/2012
|
Laporkan
wah saya setuju bgt nih ama yg ini...masuk akal...paling ngabisin waktu 2thnan setelah itu semua polisi baru semua dan berualitas
iron maiden
| 24/02/2012
|
Laporkan
krn loe pikun, kalo loe pernah jadi korban kebrutalan fpi spt di cikeusik, maka loe tau gak ada bedanya antara preman dan fpi, sama2 keroyokan
kok bisa orang bawa-bawa senjata tajam panjang ( samurai ) berkeliaran dirumah sakit tentara lagi ??? keamanannya kemana ?? , satpam , tentara , polisi ?? mending FPI aja disuruh jadi keamanan deh .. pasti beres
santai bro, jgn asal komen...justru ini strategi untuk mengurangi jumlah penduduk, biarin aja bunuh-2an biar pd habis sampah masyarakat, smart people will survive!
tai_katak
| 23/02/2012
|
Laporkan
Kayaknya preman saling bunuh2an tdk usah dipikirkan. Yang prlu dipikirkan pnangglangan pmbnhuan orang utan di kalimantan.