Metro

Air Tanah Jakarta Tak Layak Konsumsi

Kualitas air tanah di Jakarta Barat paling buruk.

Jum'at, 27 Februari 2009, 13:31 WIB
Pipiet Tri Noorastuti, Lutfi Dwi Puji Astuti
Mobil tangki air berukuran 4.000 liter (pu.go.id)

VIVAnews - Kondisi air tanah di Jakarta semakin buruk. Kondisi air tanah sudah tidak aman baik dari kuantitas maupun kualitas.

"Warga hendaknya menggunakan air pipa seperti PAM," kata Kepala Bidang Pencegahan Dampak Lingkungan dan Pengelolaan Sumber Daya Perkotaan BPLHD, Dian Wiwekowati, dalam jumpa pers di Hotel Harris, Jumat 26 Februari 2009.

Berdasar kajian dan penelitian BPLHD tahun 2008, persentase kualitas air yang baik dikonsumsi sangat kecil. Kualitas air tanah yang baik di Jakarta Utara hanya 13 persen, 
Jakarta Barat 7 persen, Jakarta Pusat 9, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur 35 persen.
"Kualitas air tanah rata-rata sudah payau." ujarnya.

BPLHD mengimbau masyarakat agar tak menggunakan air tanah dangkal. Air tanah pada kedalaman 0-40 meter sangat berbahaya jika dikonsumsi. Pada kedalaman sedangkal itu, air tanah dipastikan tercemar bakteri E-Coli penyebab diare. 

Dari aspek kuantitas, Jakarta juga diperkirakan semakin mengalami krisis air tanah. Fluktuasi air tanah antara musim hujan dan musim kemarau lebih dari empat meter. Dengan kondisi semacam ini, diperkirakan air tanah belum muncul pada kedalaman 12 meter.

Berdasarkan peta prediksi kekeringan air tanah dangkal di DKI, sejumlah daerah termasuk dalam zona kritis seperti Pulogadung, Matraman, Tebet, Duren Sawit, Pasar Minggu, Ciracas, dan Pasar Rebo. Zona ini, air tanah baru didapat pada kedalaman lebih dari 16 meter dengan tingkat fluktuasi lebih dari 8 meter.

Sedangkan zona sangat rawan ditempatu Kembangan, sebagian Kebon Jeruk, Tanah Abang, Menteng, Senen, dan Cakung. Zona ini, air tanah ditemukan pada kedalaman 8-12 meter dengan fluktuasi 4-6 meter. 

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ