Metro
Legenda Karet Tengsin

Bermula di Kebun Karet Saudagar Tiongkok

Karet Tengsin dulunya adalah perkebunan karet milik etnis China Betawi bernama Tieng Shin.

Selasa, 23 Juni 2009, 12:39 WIB
Maryadie, Sandy Adam Mahaputra
Kawasan Karet Tengsin pada tahun 1896 (KITLV)

VIVAnews - Rimbunan perkebunan karet seluas 300 hektar yang terhampar di jantung pusat kota Jakarta, terpaksa harus tergusur akibat perkembangan zaman ke arah modernisasi.

Pohon-pohon karet kini berganti wajah dengan gedung-gedung pencakar langit. Daerah yang dikenal dengan nama Karet Tengsing itu memiliki sejarah yang cukup panjang. 

Menurut salah satu sesepuh Karet Tengsin, Husni MT, 60 tahun, asal mula nama daerah yang kini termasuk kawasan Segitiga Emas Kuningan,  berasal dari nama orang China yang kaya raya dan baik hati.

Orang itu bernama Tan Tieng Shin. Karena baik hati dan selalu memberi bantuan kepada orang-orang sekitar kampung, maka Tieng Shin cepat dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Tieng Shin.

"Karena orang pribumi susah nyebutnya jadi Tengsin saja," ujarnya kepada VIVAnews.

Memang pada waktu itu banyak pohon karet, Karet Tengsin dulunya adalah perkebunan karet milik etnis China Betawi bernama Tieng Shin.  "Di sini dulunya hutan yang ditubuhi berbagai macam pohon. Salah satunya pohon karet. Hutan ini kemudian berubah menjadi perkebunan karet oleh Tieng Shin," ungkapnya.

Karena kekayaan yang berlimpah dan sikapnya yang dermawan membuat para pribumi banyak bekerja di perkebunan miliknya.

"Warga di sini dulunya hidup sejahtera, kita biasanya makan dari hasil hutan yang cukup berlimpah. Banyak sayur mayur yang tumbuh subur. Jadi tidak udah beli tinggal ambil saja," ujar Ketua RT 06 RW 02 Karet Tengsin ini.

Husni mengakui jika kakeknya Saidi merupakan teman akrab Tieng Shin. Tak hayal dirinya pun mengetahui sejarah tersebut. "Tieng Shin sudah berada di sini sejak 1890, dia memiliki rumah yang sekarang dibongkar menjadi Menara Batavia," tuturnya.

Perkebunan karet milik Tieng Shin akhirnya tergusur setelah dibangunnya Stadion Gelora Bung Karno. "Jalan KH Mas Mansyur dulunya kebun karet, tapi akhirnya ditebang untuk dijadikan jalan," kenangnya.

Kebun-kebun yang rindang dengan pohon karet akhirnya mulai menghilang, namun jejak keluarga Tieng Shin masih tetap bertahan meskipun tidak berlangsung lama.

"Pasca meninggalnya Tieng Shin, anak dan cucu masih menetap, tapi tidak lama. Sejak rumah mereka juga ikut tergusur, jejak itu sirna," katanya.

Husni mengaku sedih dengan kondisi Karet Tengsin saat ini. Warganya menjadi susah, lingkungan menjadi kumuh. Penduduk asli pun tak kuasa dengan adanya serangan dari gedung-gedung pencakar langit yang mulai menutupi rumahnya dari sinar matahari.

Satu persatu mereka mulai angkat kaki dari perkebunan karet itu.

Kali Krukrut yang melintasi perkebunan Karet Tengsin pun ikut terkena dari dampak modernisasi. "Dulu kalinya bening, kita masih suka mancing, mencuci, dan mandi. Tapi sekarang airnya kotor," ujarnya lirih.

Kini Karet Tengsin hanya sepenggal cerita massa lalu yang selalu terkenang dengan keindahan perkebunan karetnya. Karet Tengsin merupakan Kelurahan di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Karet Tengsin memiliki 70 RT yang terangkum dalam 9 Rukun Warga. Jumlah warga Karet Tengsin hampir 15 ribu jiwa.

Mereka tinggal di atas lahan, termasuk lahan Pemakaman Karet Bivak yang terkenal itu seluas 153 hektar.

• VIVAnews
Rating
Komentar
wah,... tuh tanah yg digusur th 94 masih belom jadi apa2,.. andai aja ga ada acara gusur mengusur,... kangen nih ama warga gg masjid 1 dan 2,.. ada ex anak sana ga?
Balas   • Laporkan
Enung
03/09/2010
Gede saya disitu,orang tua saya juga masih tinggal disitu,nongrong saya dulu di kuburan,sekarang saya tinggal di perantauan,terkesan juga nih saya jadinya !
Balas   • Laporkan
ipunk
23/03/2010
wah sedih memang yeh kalo mendengar daerah karet tengsin yang dulu bersih, kalikrukut yang dulunya bisa buat mandi tetapi punah dengan kemajuan yg ad
Balas   • Laporkan
hawa
08/03/2010
alhamdllah....jadi tau asal muasal karet tengsin.ane dl tggal d gg mesjiad 1 depan kebon sawo....
Balas   • Laporkan
agung.oktaviana | 03/12/2011 | Laporkan
masih tinggal disana... asli sana ya? kalo saya di rt4 nya ... sekitar kebon sawonya
Acul.
15/12/2009
Abis bace crite diatas...ni ati langsung inget orang tue, engkong dll....masa kecil saya di karten...inget masa kecil..temen-temen udah banyak yang pindah, juga saya...
Balas   • Laporkan
iyan
09/09/2009
sipppppppppp
Balas   • Laporkan
Adirizal Nizar
05/09/2009
Banyak contoh didunia penduduk asli selalu tergusur oleh pendatang...seharusnya kelestarian lingkunagn diutamakan
Balas   • Laporkan
faozi
25/08/2009
wah sedih ceritanya karena orang tua saya dari sana di gang masjid i sebelum gusur2th 1994
Balas   • Laporkan
agung.oktaviana | 03/12/2011 | Laporkan
sebelah mana gan tinggalnya? rt berapa dulu? ane di rt4,.. dulu ada warung namanya mas jo,.. ane deket dari situ
mo2chan
28/07/2009
ternyata tidak semua mordernisasi membawa kesejahteraan..
Balas   • Laporkan
jaya
16/07/2009
wah... baru tau yang namanya kebon karet tengsin. tambah informasi nih..
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ