VIVAnews - Menjadi seorang tunanetra bukan halangan untuk mengikuti pemilihan presiden pada 8 Juli mendatang. Mereka akan mendapat fasilitas khusus saat memberikan hak pilihnya.
Mereka akan dilatih mencontreng kertas suara khusus yang memuat huruf braile. "Jadi para tunanetra bisa membaca apa yang tertera diatas kertas suara," kata Wakil Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra, Irwan Dwi Susanto, Sabtu 4 Juli 2009.
Irwan mengatakan, fasilitas khusus yang disediakan hanya kertas suara berhuruf braile. Sedangkan pencontrengan tetap menggunakan pena biasa. "Karena mereka bisa "membaca" huruf braile itu," ujarnya.
Dengan demikian, pemilih tunanetra dapat menggunakan hak pilihnya sesuai azas langsung, umum, bebas, dan rahasia. Mereka tidak perlu didampingi relawan saat mencontreng.
Dian, seorang tunanetra asal Payakumbuh, Sumatera Barat, mengatakan, surat suara dengan hurup braile itu sangat memudahkan dirinya untuk mencontreng. "Sehingga kerahasiaan pilihan kami terjamin. Relawan tetap kami butuhkan untuk memandu kami ke bilik suara, namun saat mencontreng, kami tidak perlu diikuti oleh relawan," ujarnya.
Yayasan Mitra Netra di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan menaungi sekitar 800 tunanetra yang memiliki hak pilih. Sebanyak 24 di antaranya telah mengikuti latihan memilih presiden.