Metro

Romansa Trem Batavia

Trem sempat menjadi angkutan primadona masyarakat Batavia pada masa kolonial.

Senin, 27 Juli 2009, 06:59 WIB
Pipiet Tri Noorastuti
Trem listrik di kawasan Harmoni tahun 1954 (Museum Sejarah Jakarta)

Please install the Flash Plugin

VIVAnews - Sisa-sisa kejayaan Batavia itu tertinggal di kawasan Kota Tua. Wujudnya seperti rel kereta api yang terputus dan berkarat. Terputus karena sebagian telah tertimpa aspal dan bangunan.

Sesuai wujudnya, besi lurus sejajar itu memang bekas jalan kereta. Bukan kereta seperti yang dewasa ini banyak menyinggahi stasiun di Jakarta, melainkan trem kota. Sebuah moda transportasi massal yang begitu lekat dengan kehidupan modern kota-kota besar di Eropa kini.

Pada masa kolonial, trem sempat menjadi angkutan primadona masyarakat Batavia. Bahkan trem baru tamat riwayatnya tahun 1960 pada masa pemerintahan Gubernur Sudiro. Atas perintah Presiden Soekarno, relnya kemudian dibongkar. Kala itu, Presiden menganggap trem sebagai biang keladi kemacetan kota.

Dimulai dengan trem kuda pada 1869. Buku 'Kisah Betawi Tempo Doeloe: Robin Hood Betawi' karya Alwi Shahab menyebut, trem kuda berupa kereta panjang yang memuat 40 penumpang.

Sesuai namanya, kereta tersebut ditarik tiga atau empat kuda. Sang kusir biasanya menggunakan terompet sebagai klakson. Trem kuda lewat lima menit sekali dan beroperasi setiap hari mulai pukul 05.00-20.00 dengan tarif 10 sen.

Trem menjulur di tengah kota dengan stasiun di pintu gerbang Amsterdam, sekitar 100 meter dari Pasar Ikan, dan Tanah Abang. Rutenya ke arah selatan menuju Stadhuisplein (Taman Fatahillah) - Nieuwpoort Straat (Jalan Pintu Besar Utara dan Selatan) - Molenvliet West (Jalan Gajah Mada) - Harmoni - Pasar Tanah Abang.

Dari terminal di Pasar Tanah Abang perjalanan trem berlanjut menyusuri Kampung Lima Weg (Sarinah) - Tamarin Delaan (Jalan Wahid Hasyim) - Kebon Sirih - Kampung Baru (Jalan Cut Mutia) - Kali Pasir - Kramat - Pasar Baru - Wilhelmina Park (Istiqlal) - Rijswijk (Jalan Veteran) - Harmoni dan kembali ke Pasar Ikan.

Pada 1881, keberadaan trem kuda digantikan trem bermesin uap. Kereta tak lagi ditarik kuda melainkan lokomotif yang dijalankan dengan ketel uap. Rutenya pun lebih panjang yaitu dari Pasar Ikan sampai Jatinegara. Jalur trem bercabang di kawasan Harmoni. Selain ke arah Tanah Abang, jalur trem juga menjalar ke Jatinegara melintasi Pasar Baru - Gunung Sahari - Kramat - Salemba - Matraman.

Sekitar 20 tahun kemudian, seiring perkembangan teknologi, trem uap pun tergeser oleh trem listrik. Namun, trem uap masih mengiringi kemunculan trem listrik hingga akhirnya dihapus pada 1933. Selama 27 tahun, trem listrik pun merajai jalanan Jakarta hingga akhirnya tergusur oleh bus-bus PPD.

Video: Komunitas Jelajah Budaya



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
suyoko
23/02/2010
trus sisa2 trem pada kemana, kan bisa di kumpulkan dan di buat museum, seperti museum kereta kuno di ambarawa bisa mendatangkan uang lo
Balas   • Laporkan
chessey
03/02/2010
pengen banget ada fasilitas spt jaman batavia dulu dgn lokomotifnya dll, kan kalau d gabungkan jadi awsome bgt!!! modern tapi gak meninggalkan classic tempo dulunya... harus nya pemerintah kita bisa melihat tata kota d luar negri sana... yang gak meningga
Balas   • Laporkan
taqi
03/12/2009
Ah sayang sekali saya lom lahir saaat itu, coba sampe sekarang masih ada tuh Trem dijakarta, lewat depan rumah tuh, denger ceritenye doang dari nenek deh....d gitu polusi makin merajalela aja di jakarta..
Balas   • Laporkan
suaeb akhmad
18/11/2009
Seandainya situasi era trem tersebut di lokalisir di suatu area tertentu betapa nikmatnya, paling tidak anak cucu sampai buyut bisa turut merasakan langsng (bukan membayangkan lewat photo tempo doeloe). Tentu saja arealnya harus cukup luas, sehingga suasa
Balas   • Laporkan
ayu dia
20/10/2009
sayang banget yah, padahal kalo ada trem kemungkinan macet malah tertanggulangi karena trem alat angkut masal, lihat aja kereta masih jd favorit sbg angkutan. orang juga sudah bosen dengan kemacetan...perlu dikaji ulang
Balas   • Laporkan
emwady
19/09/2009
Sayang Trem habis di Jakarta. Negeri Belanda aja yang begitu moderen namunTrem disesuaikan dengan zamannya. Aduh apa ndak ada maksud pak Gub. bikinlagi Trem untuk Jakarta.
Balas   • Laporkan
bagus
10/09/2009
baru kmaren kakek gw crita pernah ada trem d jakarta, sempet ngira dy ngarang lho.. mohon maaf lahir batin ya kek..
Balas   • Laporkan
pujo prayitno.s
06/08/2009
Benar2 sayang sekali sampai gak ada lagi itu trem.pdhal klo masih ada bisa menjadi salah satu moda Transportasi alternatif selain bus way & pastilah turis2 banyak datang kesini.
Balas   • Laporkan
pujo prayitno.s
06/08/2009
Benar2 sayang sekali sampai gak ada lagi itu trem.pdhal klo masih ada bisa menjadi salah satu moda Transportasi alternatif selain bus way & pastilah turis2 banyak datang kesini.
Balas   • Laporkan
Arlan
31/07/2009
SAyang ya, udah ga ada. Pak.., Jakarta tetap saja sampai sekarang masih macet kok!
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ