VIVAnews - Gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter yang terjadi di Tasikmalaya turut membuat panik ribuan warga Jakarta yang tengah menghuni gedung tinggi. Termasuk sejumlah anggota DPR dan karyawan yang berada di Gedung Nusantara I Kompleks DPR/MPR Senayan.
Mereka pun menghampur ke tangga darurat untuk menyelamatkan diri. Namun, upaya itu terhambat lantaran tangga darurat berubah fungsi sebagai gudang. "Tangga penuh barang-barang," kata Alvin Lie, anggota Komisi VII DPR, saat berbincang dengan VIVAnews, Kamis, 3 September 2009.
Seorang staf Alvin Lie yang tengah berada di lantai 20 pun hanya bisa pasrah saat berdesak-desakan di tangga darurat yang kian menyempit itu.
Sebelum gempa terjadi, Alvien pernah mengirim foto dan melaporkannya ke Sekjen DPR. Namun, laporan itu tak dihiraukan. Tumpukan barang terus menumpuk menghalangi akses tangga darurat gedung dengan lebih 20 lantai itu. Bahkan ia sempat membaca tulisan di pintu tangga, "Maaf, tangga darurat tidak bisa digunakan."
Kondisi itu, menurutnya adalah kesalahan fatal. Tangga darurat harus siaga 24 jam sesuai fungsinya. "Coba bayangkan kalau ada kebakaran atau gempa yang lebih besar, sudah dipastikan banyak korban jiwa di DPR," ujarnya.
Gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter terjadi pukul 14.55 pada Rabu 2 September 2009. Lokasinya di 82,424 Lintang Selatan dan 107,32 Bujur Timur dengan kedalaman 30 kilometer atau sekitar 242 kilometer dari Jakarta. Korban tewas di tanah air akibat gempa mencapai 44 jiwa.